Artikel ini ditulis dari hasil ngobrol ngalur ngidul dengan seorang teman, salah satu pakar Garment dari Bandung, Bp HB. Terimakasih atas sharingnya pak….

Mesin jahit bisa diibaratkan sebagai sebuah mobil, dan operatornya adalah sopirnya. Bagaimana cara si operator menjalankan mesin sama dengan bagaimana cara seorang sopir menjalankan mobilnya.

Cara mengemudi sopir angkot atau sopir bajaj tentunya berbeda dengan sopir mobil pribadi. Sopir mobil pribadi pun pasti akan berbeda perlakuannya apabila membawa sebuah mobil biasa, dibandingkan membawa sebuah Mercy ataupun Alphard.

Sama halnya dengan operator mesin jahit, bagi mereka yang terbiasa mengerjakan barang “alusan” (barang dengan kualitas tinggi, misal : standar ekspor, standar dept store) tentu akan kesulitan jika dihadapkan dengan pekerjaan yang mengutamakan kecepatan bukan kerapian (misal : kaos partai). Mereka akan tertinggal jauh dari sisi omzet pekerjaan dibandingkan dengan yang sudah terbiasa mengerjakan kaos partai.  Demikian juga apabila dibalik, operator jahit kaos partai pasti kesulitan jika mengerjakan kaos dengan standar ekspor. Pasti akan banyak complain dari hasil yang dikerjakannya.

Sebagai konsumen kita bisa mengetahui, operator seperti apakah yang mengerjakan kaos kita ? lihat saja dari kualitas jahitan barang yang kita order… lalu kita bisa simpulkan, siapakah yang sedang mengoperasikan mesin jahitnya, apakah sopir angkot atau sopir mobil pribadi, atau bahkan sopir Mercy ? ;p